INEWS Gerung – Banjir rob berpotensi melanda sejumlah wilayah pesisir di Pulau Lombok dan Sumbawa, menurut peringatan yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Fenomena ini diprediksi terjadi pada 5–16 Juli 2025 dan menjadi perhatian serius bagi masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB) karena risiko tinggi yang ditimbulkannya.

Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Satria Topan Primadi, potensi banjir rob kali ini disebabkan oleh fase bulan purnama yang akan terjadi pada 10 Juli 2025. Peristiwa alam ini dapat meningkatkan gaya gravitasi bulan terhadap permukaan laut, sehingga memicu naiknya air laut ke daratan, terutama saat pasang maksimum.
“Fenomena bulan purnama dapat menyebabkan ketinggian air laut naik signifikan. Masyarakat pesisir harus lebih waspada,” ujar Satria dalam keterangan tertulis, Jumat (5/7/2025).
Baca Juga : 390 Pulau di NTB Nganggur, Pemprov NTB Persilahkan Pihak Asing Untuk Mengelola
Wilayah Terdampak di Lombok dan Sumbawa
Sejumlah wilayah pesisir di NTB diperkirakan akan terdampak banjir rob. Di Pulau Lombok, daerah yang masuk kategori siaga meliputi:
-
Ampenan
-
Sekarbela
-
Gerung
-
Lembar
-
Pemenang
-
Jerowaru
-
Labuhan Lombok
Sementara di Pulau Sumbawa, wilayah yang diprediksi terdampak meliputi:
-
Kabupaten Sumbawa
-
Labuhan Badas
-
Palibelo
-
Woha
-
Bolo
-
Langgudu
-
Soromandi
-
Sape
-
Rasanae Barat
-
Hu’u
-
Asakota
Warga Diminta Siaga, Termasuk di Bantaran Sungai
BMKG menghimbau agar warga yang tinggal di pesisir maupun bantaran sungai lebih waspada terhadap dampak gelombang pasang dan air laut yang tinggi. Tak hanya masyarakat nelayan, pemilik usaha di pinggir pantai seperti warung, penginapan, dan tambak ikan juga diminta mengambil langkah antisipasi.
Selain itu, data mencatat bahwa Kabupaten Bima menjadi daerah dengan jumlah desa terbanyak yang berada di pesisir, yaitu 68 desa, disusul Kabupaten Sumbawa dengan 63 desa yang berbatasan langsung dengan laut.
“Waspada saat aktivitas di pelabuhan, tambak, dan area pariwisata yang berbatasan dengan laut. Kami minta masyarakat tidak panik, namun tetap siaga,” tegas BMKG.
Dengan adanya peringatan ini, masyarakat diharapkan aktif memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan tidak mudah percaya informasi hoaks yang beredar di media sosial.




