LOMBOK – Dua asesor UNESCO asal Jepang dan Belgia tengah melakukan kunjungan lapangan ke Pulau Lombok dalam rangka revalidasi geopark Rinjani sebagai UNESCO Global Geopark (UGG). Salah satu hal yang turut disoroti adalah insiden pendaki asal Brasil, Juliana Marins. Yang sempat viral usai tersesat di jalur pendakian Gunung Rinjani.

Namun, pihak pengelola Geopark Rinjani memastikan bahwa insiden tersebut tidak secara langsung mengancam status Rinjani sebagai geopark dunia. Penilaian UNESCO dilakukan secara menyeluruh berdasarkan berbagai parameter, bukan insiden tunggal.
“Mereka (asesor) tahu ada insiden ini, dan sudah berdiskusi langsung dengan pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani serta Pos Pengamat Gunung Api,” kata Geoscientist Geopark Rinjani, Meliawati, Selasa (1/7/2025).
Revalidasi ini merupakan bagian dari siklus rutin empat tahunan yang dilakukan UNESCO untuk mengevaluasi keberlanjutan geopark global. Prosesnya dimulai sejak 2024 dengan pengiriman Executive Summary dan Progress Report, dilanjutkan dengan kunjungan lapangan.
Dalam kunjungan ini, asesor menilai berbagai aspek mulai dari kondisi geosite, implementasi program edukasi dan konservasi, hingga pemberdayaan masyarakat lokal. Hasil evaluasi akan dibawa ke sidang UNESCO Global Geoparks Council di Chile pada September 2025. Untuk selanjutnya dibahas lebih lanjut dalam Sidang Council di Paris tahun 2026.
“Insiden seperti Juliana Marins akan dilihat sebagai bagian dari sistem manajemen risiko dan mitigasi. Jika ada kekurangan, bisa jadi masuk rekomendasi perbaikan, bukan ancaman langsung,” tambah Meliawati.
Baca Juga : Oknum Pegawai BPBD Lombok Barat Dilaporkan ke Polisi, Diduga Cabuli Menantu
Plh Sekda NTB, Lalu Mohammad Faozal, juga menegaskan bahwa belum ada indikasi insiden tersebut akan berdampak negatif terhadap status Geopark Rinjani.
“Sampai saat ini belum mengarah ke sana. Kita tunggu hasil akhir revalidasinya,” ujar Faozal.
Penilaian UNESCO akan menghasilkan tiga kategori rekomendasi, yaitu kartu hijau (status tetap), kartu kuning (perlu perbaikan dalam waktu 2 tahun), atau kartu merah (dicabut dari UGG).
Masyarakat diimbau untuk tetap mendukung upaya pelestarian dan tata kelola Rinjani, sembari menunggu hasil resmi dari UNESCO pada 2026.




